DALAM upaya mengantisipasi dampak krisis global, para cendekiawan syariah se-Asia Tenggara membahas ‘Operasi dan Mekanisme Pertukaran Mata Uang dan Swap Dalam Keuangan Islam’. Dalam workshop atau muzakarah Cendekiawan Syariah Nusantara ke-3 (The 3rd Regional Syariah Scholar Workshop) itu, menghasilkan dua resolusi.

Resolusi pertama, mendirikan badan Majma Keuangan Islam Nusantara. Badan ini untuk mengembangkan industri keuangan Islam global dan Nusantara, berperan menangani berbagai permasalahan Syariah keuangan Islam. Resolusi kedua, tentang Konsep dan Mekanisme Swap dalam Institusi Keuangan Islam. Swap didefinisikan sebagai suatu mekanisme lindung nilai, di mana dua pihak bersetuju untuk melakukan pertukaran, baik pertukaran kadar mata uang maupun kadar keuntungan berbeda.

 

Program tahunan muzakarah yang memasuki tahun ketiga tersebut, telah berlangsung Senin (25/5) dan Selasa (26/5) di Hotel Mercure, Convention Centre, Ancol, Jakarta. Ajang ini merupakan prakarsa International Shari’ah Research Academy in Islamic Finance (ISRA) yang berpusat di Malaysia dan berada di bawah naungan Bank Negara Malaysia dengan mitra penyelenggaranya adalah Dewan Syariah Nasional MUI (DSN-MUI) didukung Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia.

 

Menurut Pimpinan STEI Tazkia M Syafii Antonio melalui rilisnya, Rabu (27/5), selain dua resolusi itu, inti dari pertemuan muzakarah adalah sebagai wahana antara pelaku keuangan bisnis syariah yang dimotori cendekiawan syariah. Selain itu, untuk menjalin kerja sama pengembangan dan kajian produk-produk syariah di Asia Tenggara.

 
“Pertemuan ini juga sebagai bukti kepedulian para pelaku ekonomi syariah terhadap krisis global. Bagi Indonesia even ini menjadi penting, mengingat Indonesia termasuk negara muslim terbesar di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Indonesia memiliki pelaku bisnis syariah terbesar di Asia,” kata Syafii.

Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dari Muzakarah Cendekiawan Syariah Nasional ke-3 ini, antara lain mewujudkan kesepahaman bersama antara ulama Nusantara yang memiliki rumpun budaya, bahasa serta adat yang sama dengan negara-negara di Asia Tenggara serta memfasilitasi suatu forum kerja sama lebih erat di dalam suatu kerja kolaboratif, pembentukan, diseminasi, dan berbagi ilmu di kalangan para ulama dan cendekiawan Islam.

 
 
Sumber : Berita Kota